
Lembaga pengawas kejahatan siber, FireEye, melaporkan bahwa satu kelompok peretas bernama APT38 melakukan operasi di 16 organisasi di setidaknya 11 negara.
Operasi besar-besaran ini mengindikasikan mereka "memiliki sumber daya besar untuk melakukan operasi dengan keuntungan yang banyak."
Serangan melalui ruang virtual ini beriringan dengan pengembangan program nuklir dan rudal balistik Korut yang dilaporkan terus berjalan meski sudah ada perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Pemerintahan Donald Trump sendiri sudah menekankan bahwa mereka akan tetap menerapkan sanksi atas Korut hingga Kim Jong-un benar-benar melucuti senjata nuklirnya.
Tekanan ini dianggap menjadi salah satu alasan utama Korut terus melancarkan serangan siber di berbagai ranah.
Penasihat Senior FDD, Samantha Ravich, pun memperingatkan bahwa Korut bisa menggunakan kemampuan mereka melakukan gempuran siber untuk menyerang perekonomian AS.
"Lima belas atau 10 tahun lalu, ketika menganalisis potensi serangan balik atas sanksi AS atas Korut atau latihan militer AS-Korsel, tak pernah ada perimbangan kemampuan rezim Kim menyasar ekonomi AS," ujar Ravich.
"Kini, Korut memiliki salah satu operasi siber paling mumpuni dan agresif. Menghadapi sanksi ekonomi AS yang intens, Pyongyang mungkin mempertimbangkan menggunakan kemampuan siber itu untuk menyerang perekonomian AS." (has)
Baca Kelanjutan Korut Dilaporkan Coba Curi Rp16,7 T dari Bank Global : https://ift.tt/2DXz01wBagikan Berita Ini
0 Response to "Korut Dilaporkan Coba Curi Rp16,7 T dari Bank Global"
Post a Comment