Dalam pertemuannya dengan Lavrov itu, Tillerson menyinggung dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS pada November lalu. Tillerson menganggap tindakan tersebut semakin memperdalam rasa ketidakpercayaan serius antara kedua negara.
"Kami berdua membicarakan insiden serius itu dan mencoba membantu Rusia memahami betapa seriusnya dampak [campur tangan] itu hingga merusak rasa saling percaya antara kedua negara dan bangsa. Dan kami harus menemukan jalan menyelesaikan ini," tutur Tillerson kepada wartawan sebagaimana dikutip AFP.
Selama ini Rusia membantah keras meski komunitas intelijen AS seperti Badan Intelijen Pusat (CIA) telah menyimpulkan bahwa Kremlin ikut campur dalam pemilu tahun lalu untuk memenangkan Presiden Donald Trump.
Trump sendiri membantah dugaan kolusi antara dirinya dan pihak Rusia soal pemilu. Dia pun jarang mengangkat isu tersebut, khususnya ketika membicarakan hubungan antara Washington-Moskow.
Belakangan, hubungan kedua negara kian memburuk setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 diplomat AS dari Negeri Beruang Merah. Langkah ini dilakukan Putin sebagai tindak balasan atas sanksi baru yang dijatuhkan AS terhadap negaranya.
Rusia memerintahkan ratusan diplomat AS itu untuk angkat kaki paling lambat 1 September mendatang.
Dalam pertemuannya, Tillerson juga memperingatkan Lavrov bahwa Washington akan merespons pengusiran tersebut."Namun, kami belum membuat keputusan tentang bagaimana kami akan merespons keputusan Rusia mengusir personel diplomatik AS di negara itu," papar Tillerson.
"Saya mengajukan beberapa pertanyaan klarifikasi soal peringatan diplomatik Rusia yang kami terima. Kami akan respons tindakan mereka ini pada 1 September mendatang," ujarnya.
(aal)
Baca Kelanjutan Menlu AS Semprot Rusia soal Intervensi Pemilu : http://ift.tt/2vFSDX0Bagikan Berita Ini
0 Response to "Menlu AS Semprot Rusia soal Intervensi Pemilu"
Post a Comment