
"Kami sangat prihatin atas pernyataan itu dan mendesak Iran untuk tetap menaati janji dalam kesepakatan dan tidak mengambil langkah yang bertentangan," kata Perdana Menteri Inggris Theresa May melalui juru bicaranya.
Dilansir Reuters, Kamis (9/5), May menyatakan kesepakatan ini sangat penting untuk membuat dunia tetap aman. Hanya saja May menyatakan Inggris akan mendukung penuh asal Iran tetap mematuhi, tetapi tidak menyinggung soal sikap Amerika Serikat yang turut memantik kemelut itu.
Wakil Menlu Inggris, Mark Field, menyatakan di depan parlemen tidak senang dengan sikap Iran.
"Menurut kami peran Iran dalam konflik Suriah dan Yaman serta program peluru kendali juga menjadi masalah," kata Maas.
Senada dengan Inggris, Maas mengimbau supaya Iran tetap menaati perjanjian nuklir itu.
Presiden Iran, Hasan Rouhani, mengancam bakal melanjutkan pengayaan uranium jika pihak-pihak penandatangan kesepakatan nuklir pada 2015 lalu tak membela negara tersebut dari dera sanksi Amerika Serikat.
Rouhani memberikan waktu 60 hari bagi Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia untuk berjanji melindungi sektor minyak dan perbankan Iran di tengah sanksi AS.
Perjanjian yang diteken pada 2015 lalu itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.
Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.
Namun, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran. Yakni mengancam akan menjatuhi sanksi kepada negara-negara yang membeli minyak dari Iran. Mereka juga menjatuhkan sanksi untuk produk tambang dan baja Iran.
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Inggris dan Jerman Bujuk Iran Tetap Patuhi Kesepakatan Nuklir"
Post a Comment