Search

Cerita Relawan soal Derita Rohingya di Kamp Pengungsian

Entah sudah berapa banyak rombongan pengungsi Muslim Rohingya tiba di perbatasan Bangladesh untuk mencari perlindungan setelah kampung halaman mereka di Myanmar, terutama negara bagian Rakhine didera krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Sejak sepekan terakhir, saat dirinya tiba di kamp Kanzarpara, Chittagong, Rahadiansyah melihat langsung penderitaan etnis Rohingya yang selama ini menjadi target persekusi.

"Sepanjang hari arus pengungsi terus berdatangan ke kamp ini. Rasa lelah tampak di mata para pengungsi yang baru saja datang," ucap anggota organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT)  melalui pernyataan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (8/9).

Bagaimana tidak, Rahadiansyah menuturkan para pengungsi tersebut harus menyebrangi perbatasan dan sungai untuk sampai di perbatasan Bangladesh. Para pengungsi Rohingya juga mesti menyeberangi perbatasan selama belasan hari untuk sampai ke kamp Kanzarpara.

Kamp Kanzarpara menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi di sejumlah titik di perbatasan Bangladesh. Kamp tersebut berlokasi sekitar 3 kilometer dari sungai Naf yang terletak di antara perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Belum lagi, tuturnya, para pengungsi itu membawa serta anak-anak dan barang berharga mereka yang bisa mnjadi pegangan untuk bertahan hidup.

"Dari kampung halaman mereka di Rakhine, para pengungsi harus berjalan dan menyeberangi Sungai Naf selama 12 hari untuk bisa ke sini. Bayangkan, 12 hari!" tutur Rahadiansyah.

"Anak-anak, dan bahkan di antara mereka ada bayi yang baru berusia 20 hari. Bayangkan, bayi tersebut harus ikut menyebrangi perbatasan selama belasan hari dan dalam kondisi musim hujan seperti saat ini."

Cerita Relawan soal Derita Rohingya di Kamp PenampunganAnak-anak etnis Rohingya yang berada di kamp pengungsian, di perbatasan Bangladesh-Myanmar. (AFP PHOTO / K M ASAD)
Sejak akhir Agustus, Rahadiansyah bersama sejumlah relawan lain dan organisasinya telah mendistribusikan sejumlah bantuan darurat bagi ribuan Rohingya di kamp tersebut.

Bantuan-bantuan tersebut termasuk kebutuhan pangan dan sandang seperti bahan makanan, minuman, pakaian, obat-obatan, hingga kerudung bagi kaum wanita. 

"Meski sebagian pengungsi membawa baju bekal saat datang ke kamp ini, pakaian yang mereka bawa begitu lusuh dan kotor akibat terguyur hujan dan lumpur selama perjalanan ke sini. Pakaian jadi kebutuhan utama setelah makanan dan tempat tinggal," papar Rahadiansyah

Rahadiansyah bahkan menuturkan, pada Kamis (7/9) kemarin ACT telah mengirimkan 5 truk pertama berisikan bantuan pangan dan logistik untuk kebutuhan para pengungsi.

Sejak kriris kemanusian di Rakhine kembali mencuat pada 25 Agustus lalu, puluhan ribu  warga etnis Rohingya berbondong-bondong melarikan diri keluar Myanmar untuk menghindari kekerasan yang diduga dilakukan aparat keamanan negara itu terhadap mereka.

PBB memperkirakan, sedikitnya 123 ribu warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan selama dua pekan terakhir ini.

Sejumlah negara seperti Indonesia, Malaysia, Turki, dan Iran pun telah menyalurkan sejumlah bantuan bagi pemerintah Myanmar khususnya warga di Rakhine.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bahkan telah bertolak ke Myanmar dan Bangladesh pada awal pekan ini untuk mendorong kedua negara menyelesaikan krisis kemanusian di Rakhine dan masalah pengungsi secara inklusif. </span> (stu)

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Cerita Relawan soal Derita Rohingya di Kamp Pengungsian : http://ift.tt/2vU4MIe

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Cerita Relawan soal Derita Rohingya di Kamp Pengungsian"

Post a Comment

Powered by Blogger.